Tragis, Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup Diduga karena Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen

Tragis, Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup Diduga karena Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen

Selasa, 03 Februari 2026, 5:32:00 PM
Surat yang ditinggalkan oleh siswi SD yang bunuh diri di Ngada (foto : net.)

Bekasi, pospublik.co.id — Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang dunia pendidikan Indonesia. Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri. Peristiwa memilukan ini diduga dipicu persoalan yang seharusnya tak pernah menjadi beban seorang anak: ketidakmampuan orang tua membelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

Korban berinisial YBR disebut meminta uang kepada ibunya pada malam sebelum kejadian untuk membeli perlengkapan sekolah. Namun permintaan tersebut tak dapat dipenuhi lantaran kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengungkapkan bahwa ibu korban hidup dalam kesulitan dan harus menanggung kebutuhan lima orang anak seorang diri. Ayah korban telah lama berpisah dari keluarga sejak sekitar 10 tahun lalu.

“Permintaan uang untuk beli buku tulis dan pulpen itu disampaikan sebelum korban meninggal. Ibunya memang tidak mampu,” ujar Dion.

Diketahui, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya, sementara rumah sang ibu berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah ibunya dengan harapan mendapat uang untuk kebutuhan sekolahnya.


Korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) di pohon cengkih tak jauh dari permukiman warga. Saat proses evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diyakini ditulis sendiri oleh korban. Dalam surat tersebut, korban menyampaikan pesan untuk sang ibu disertai gambar dirinya dengan wajah menangis.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan temuan surat tersebut.

“Surat itu benar ditulis oleh korban. Ditemukan langsung oleh petugas di lokasi kejadian,” katanya.

Peristiwa ini menampar keras wajah negara. Di tengah berbagai program bantuan sosial, pendidikan gratis, dan jargon perlindungan anak, masih ada anak Indonesia yang kehilangan harapan hanya karena selembar buku dan sebuah pulpen.

Tragedi YBR bukan sekadar peristiwa keluarga, melainkan alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah: bahwa kemiskinan ekstrem, lemahnya perlindungan sosial, serta absennya negara di kehidupan paling dasar rakyat miskin telah merenggut nyawa seorang anak.

Catatan Redaksi:
Berita ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan mental, depresi, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional atau layanan kesehatan terdekat.

( Dedy | Pos Publik)

TerPopuler